Aku tidak menyangka bahwa pada hari ini 24 November 2015, aku telah sampai pada titik ini. Titik yang cukup tinggi yaitu mendapat gelar sarjana. Awalnya, tidak terbayang dalam benakku mempunyai cita-cita menjadi seorang guru. Apalagi guru bahasa Indonesia,
Banyak orang jurusan bahasa Indonesia itu mudah, Seorang yang tidak kuliah pun bisa berbahasa. Tetapi dengan belajar bahasa Indonesia, setidaknya saya ingin mengurangi kegamangan di antara masyarakat kita yang masih bingung antara merubah atau mengubah dan mencontohkan atau menyontohkan.
Semoga dengan disahkannya gelar S.Pd. tanggal 25 November 2015 gelar tiga huruf ini benar-benar membawa berkah bagi kehidupan bangsa kita, yaitu Indonesia. Love +62.
Selasa, 24 November 2015
Selasa, 17 Juni 2014
Feature dan Tulisan Fiksi (Essai)
oleh
Nurohmah
Menulis sama seperti halnya menggambar.
Sama-sama menumpahkan perasaan. Merasakan energinya dan menyisakan kelegaan
sesudahnya. Sesuatu hal yang bisa kita tuangkan dalam tulisan kita adalah
pengalaman perjalanan. Baik itu suatu tempat hiburan atau hal-hal apa saja yang
dianggap tak wajar atau lumrah. Suatu hal yang sifatnya menyerupai ini biasanya
kita kenal dengan feature.
Dunia yang sangat indah ini sangat
disayangkan jika tidak dinikmati. Oleh
karena itu feature kerap terlahir
dari komunitas pecinta traveling. Kemudian
mereka menuangkan informasi atau bahkan hal-hal yang tidak biasa atau umum
dalam sebuah feature perjalanan atau feature profile. Namun feature kerap menyerupai tulisan-tulisan
fiksi karena sumber penciptaannya yang sama.
Novel bergenre memoar dan feature bahasanya sama-sama terurai
yaitu deskriptif, sumber penciptaannya sama yaitu realitas, dan juga sama-sama
mengandung informasi. Namun hal yang membedakannya yaitu feature lebih ekspositif dan berdasarkan realitas, memiliki
informasi yang lebih menunjang dan dalam konfliknya tidak bercampur dengan
unsur kausalitas pengarang seperti alur, karena tulisan fiksi hanya bersifat
hiburan semata dan tidak semuanya komprehensif.
Saat ini karya sastra memang berkembang
begitu pesat. Mengalahkan kiprahnya penulis opini. Penulis sastra pun kini telah
menempati bloknya masing-masing. Entah itu blok sastra populer, domestic drama, mainstream romance, baby love,
teen romance, chicklit, teenlit, fiksi
mini dan masih banyak lagi blok lainnya. Feature
sendiri juga banyak macamnya, misalnya feature
perjalanan, feature pribadi, feature how to, feature sejarah, feature interpretatif
dan feature musiman.
Seperti halnya keranjingan, menulis
adalah suatu hal yang tidak dapat dihentikan. Begitu juga penulis, mereka
menulis apapun yang melintas dalam benak mereka. Terkadang mereka menulis tidak
sepenuhnya murni dari hasil imajinasi. Ada kalanya mereka menemukan kebuntuan
dan akhirnya mereka pergi mendatangi suatu tempat yang dianggapnya akan
memberikan ilham. Oleh karena itu, tak jarang pengarang menulis kehidupannya
sendiri dalam karyanya. Begitu juga halnya feature,
mereka lahir dari pengalaman yang penulis temui.
Sekitar satu bulan yang lalu, di kampus
tercinta tempat saya menuntut ilmu menyelenggarakan acara penulisan editorial,
berita dan feature. Salah seorang
pemateri bernama Mahir Pradana penulis novel “Rhapsody” menceritakan kepada
kami bahwa dia telah menulis feature pribadi
yang berjudul “Mercedes”. Sama seperti apa yang saya rasakan ketika mendengar
judul tersebut, Mahir mengaku langsung terlintas dalam pikirannya bahwa itu
adalah nama sebuah mobil mewah ketika mewawancarai Mercedes.
“Mercedes? Ya, itu adalah nama yang
sangat bagus.” Begitu mungkin gambaran dari seorang Mahir ketika mewawancarai
ibunya Mercedes.
Apapun suatu bentuk tulisan, apakah itu
fiksi atau nonfiksi, yang terpenting adalah tulisan kita memberikan banyak
manfaat bagi komunitas pembaca. Teruslah menulis dan biarkan khalayak yang
menilainya. Terlepas itu bagus atau tidak, jangan pedulikan hal tersebut,
karena perkara menulis bukanlah mengejar nilai A. Namun menulis adalah sebuah
panggilan.
Selasa, 25 Maret 2014
dimuat pada kolom Budaya, Surat Kabar Priangan.Senin, 24 Maret 2014
Cipling
Cerpen
Nurohmah
“Cipling! Mana topimu?” seru guruku.
“Oh, iya Cipling lupa, Bu. Ketinggalan di rumah
nenek.”
“Emangnya ada apa di rumah nenek? Sampai topimu
ketinggalan?”
“Ngga’ ada apa-apa, Bu. ‘Kan Cipling tinggal di
rumah nenek.”
Guruku langsung bertolak pinggang. Tangannya
mengincar telingaku tapi aku segera berlari menuju lapangan untuk berbaris.
Pagi itu aku lolos dari cengkeraman tangan nenek sihir. Baru sekolah beberapa
hari saja guru-guru sudah hafal namaku.
Sebenarnya nakal bukan hobi, hanya saja
jika satu hari tanpa ulah nakal, dunia ini sepi banget. Bahkan tak bisa
mengalahkan indahnya bunga mawar merah yang mekar merona. Padahal ciptaan-Nya
yang paling indah itu adalah para manusia yang setiap hari makin memenuhi bumi
ini. Hidup tak bisa disia-siakan begitu saja.
“Bu?
Bu Anis? Bu Anis tahu Cipling kelas VII A?”
“Emangnya kenapa, Bu?”
“Dia itu ngga’ pernah mengerjakan PR. Udah
kasih dia ketegasan tapi tetep aja ngga’ ngerjain.”
“Sama, Bu. Di kelas dia juga sering
tidur dan tidak memperhatikan.”
“Kalau begitu... kita harus gimana lagi
ya, Bu?”
“Entahlah.”
***
“Cipling? Masukan bajunya!”
Cipling mengangguk, sambil merapikan
bajunya ia bertanya,”Boleh bertanya ngga’ Bu?”
“Nanya apa?”
“Itu, mau nanya, kenapa baju Ibu juga
ngga’ dimasukan?”
“Kamu ya... jelaslah punya Ibu tidak
dimasukkan.”
Telingaku langsung jadi sasaran
tangannya. Lalu menggiringku ke lapangan. Ibu Nani menyuruhku hormat di bawah
tiang bendera. Bel istirahat berbunyi dan aku masih berdiri di lapangan.
“Cipling? Ngapain kamu masih berdiri di
sana? Cepat masuk!” seru pak Samin.
“Tapi, nanti Ibu Nani pasti marah.”
“Kamu mau dimarahin Bapak atau dimarahin
Bu Nani? Cepat masuk.”
“Bener, Pak?”
“Cepat masuk.”
“Yes!”
“Cipling kenapa kata guru-guru lain
ngga’ pernah ngerjain PR?”
“Oh, anu Pak. Anu...”
“Anu apa?”
“Cipling lupa, Pak.”
“Mulai sekarang ngga’ boleh lupa.
Ngerti?”
“Iya, Pak.”
“Hari ini Bapak mau ngadain ulangan.
Cipling udah belajar belum?”
“Hah? Ulangan Pak?”
“Iya.”
“Kok ngga’ ada pemberitahuan, Pak?
Cipling ‘kan kemaren masuk.”
“Iya, ‘kan biar surprise.”
“Tenang aja Pak. Pelajaran Matematika
itu kesukaan Cipling.”
“Awas kalau nilai nol! Kalau nilai nol
Bapak akan kasih kamu PR setiap hari. Tapi kalau Cipling dapat seratus, kamu
ngga’ perlu ikut tes akhir. Langsung Bapak kasih nilai seratus di rapor.”
“Bener, Pak?”
“Emang Bapak keliatan lagi bercanda,
ya?”
Ulangan dimulai. Kelas tiba-tiba menjadi
sunyi. Tak terdengar suara gaduh sekecil apapun, meski hanya suara pulpen terjatuh.
Lima belas menit baru berlalu tapi aku merasa telah benar-benar merampungkan
semua soal. Langsung saja aku berdiri dan menyerahkan kertas ulangan. “Mata pak
Samin itu tadi gede banget sih.” gumamku.
“Cipling ikut Bapak ke kantor.”
Aku langsung membuntuti Pak Samin ke
kantor. Semua anak menyumpahi kalau aku pasti dapat nilai nol, karena kertas
ulanganku saja yang belum dibagikan. Mereka tahu kalau aku memang anak yang
susah diatur, anak nakal yang bisanya menggaggu. Aku juga igin menjadi siswa
yang mempunyai perilaku baik, taat, dan patuh, seperti yang lain.
“Cipling? Kamu nyontek ya?”
“Ngga’ Pak?”
“Tapi, Bapak ngga’ pernah lihat kamu
serius di kelas? Kerjaan kamu bercanda terus.”
“Setiap pulang sekolah Cipling kerja
jaga toko sama angkat-angkat barang, Pak. Terus pulangnya malem. Jadi Cipling selalu
lupa mengerjakan PR. Terus Cipling suka ngeliatin guru private anak pemilik toko kalo Cipling lagi bekerja. Kadang-kadang
malah saya disuruh ikut menemani anaknya belajar.”
“Oh, begitu? Tapi kenapa kamu selalu
membuat onar? Selalu membuat guru yang lain pusing. Selalu menghukum kamu.”
“Kalau itu Cipling memang benci dengan
sekolah. Gara-gara Cipling pergi ke sekolah, ibu Cipling pergi dan ayah menikah
lagi. Sampai sekarang ibu ngga’ pernah pulang. Dia hanya mengirimi Cipling uang.
Tapi Bapak tahu? Jadi apa Ibu Cipling? Pelacur Pak. Cipling ngga’ mau
terus-terusan makan uang haram. Kalau Cipling diperbolehkan nenek ngga’ sekolah,
Cipling lebih memilih mengurus nenek...”
Jumat, 27 Desember 2013
dimuat pada kolom Budaya, Surat Kabar Priangan.Jumat, 15 November 2013
Sebuah Rahasia
Cerpen Nurohmah
Cerpen Nurohmah
“Bahkan
setelah nenekmu meninggal, kau tak juga ingin menikah?” suara ibuku datang dari belakang mendekatiku.
“Ibu...
sudahlah. Jika waktunya sudah tiba, aku pasti, aku akan lakukan itu.” jawabku untuk kesekian kalinya menghadapi sebuah
desakan ibu yang menyuruh putrinya cepat menikah.
“Tapi,
kau menunggu apa lagi, Nak? Ibu sudah menunggu-nunggu waktu itu terjadi.” dalih ibuku lagi, seakan ia benar-benar ingin
melihatku duduk di pelaminan diusianya yang sudah sangat tua.
“Ibu
jangan khawatir. Aku pasti akan menikah.”
jawabku ceria.
“Iya,
tapi kapan?” tanyanya kesal sembari
memandangiku yang sedari tadi tak melepaskan pandangan dari buku.
“Bu,
aku punya alasan tersendiri untuk tidak segera menikah sekarang.” kali ini aku bicara benar-benar memandang wajah
ibuku yang terlihat memelas.
“Kau
bahkan bicara seperti itu telah menyakiti perasaanmu sendiri. Sampai detik ini
ibumu belum pernah melihat kau bersama laki-laki.” katanya memalingkan muka dariku dengan nada yang
tidak begitu enak di dengar.
Kata-kata ibuku seperti menjadi bumerang
untukku sendiri. Bahkan ibuku tahu apa yang aku rasakan. Sambil melihat ke arah
jendela aku berkata,”Bu... sudahlah.
jangan terlalu difikirkan. Aku baik-baik saja. Bahkan jika aku telah melihat semua
teman-temanku telah menggendong anak, aku akan tetap baik-baik saja.” kataku
sambil menutup buku dan memejamkan mata, berdiri dan meninggalkan ibuku. Aku
melihat dengan jelas di bawah nyala lampu yang tak begitu terang, ibuku sedang
menangis tersedu-sedu.
Keesokan harinya, ketika aku akan pergi
bekerja, akupun melihat ibuku yang selalu bersedih setelah perbincangan di mana
aku selalu menolak untuk menikah. Bahkan ketika aku mencium tangannya, aku
mendengar suaranya begitu lirih menjawab salamku.
“Bu,
aku berangkat dulu.” kataku
bersemangat seolah tak terjadi apa-apa.
Entah sampai kapan waktu akan menjawab.
Yang jelas aku semakin terpojok. Karena tidak hanya ibu yang menyuruhku untuk
segera menikah. Bahkan ibuku dan teman-temanku bekerja sama untuk menjodohkanku
dengan seseorang.
“Gadis,
tadi ibumu telpon, kenapa nomormu tak bisa dihubungi? Ia menyuruhmu untuk cepat
pulang. Ayo kita pulang? Ini sudah terlalu lama kau di sini. Lagi pula penjaga
perpustakaan juga akan segera menutupnya.”
katanya tepat dihadapanku dengan ekspresi wajah yang terlihat selalu khawatir.
Setelah tak ada jawaban dariku, diapun mencoba menarik tanganku.
“Jangan
mencoba bicara kepadaku seolah kau tak punya salah! Kau adalah orang yang harus
bertanggung jawab atas beban moral dan psikologis yang aku tanggung selama 20
tahun. Dan untuk sekarang, lebih baik kau enyah dari hadapanku. Aku tidak ingin
melihatmu.” jawabku tanpa
sepicingpun memandang laki-laki yang pernah menyakitiku. Meskipun dia adalah
saudaraku dan dia adalah orang pertama yang selalu dimintai ibu untuk
menjagaku, karena aku anak tunggal.
“Apa
yang kau... sebenarnya apa maksudmu?”
jawabnya tak mengerti. Karena memang setelah kejadian 20 tahun yang lalu aku
tak pernah sedikitpun mengungkitnya. Atau mungkin dia sengaja berpura-pura tak
mengingat kejadian itu. Itu bisa saja dia
berpura-pura lupa.
Aku mencoba menahan air mata, sebelum
akhirnya aku berkata,”Sudahlah. Kalau
begitu lupakan saja. Aku hanya ingin, kau tak perlu bicara lagi denganku. Aku
bisa pulang sendiri.” mataku memerah dan aku hanya menunduk. Dan aku
melihat ia benar-benar pergi.
Akupun akhirnya pulang, setelah penjaga
perpustakaan benar-benar akan menutupnya. Aku mungkin pembaca yang keterlaluan.
Tapi aku pikir, ketika tak ada anak-anak di sini, inilah waktu di mana aku bisa
membaca dengan baik. Aku menjadi merasa bersalah. Perpustakaan yang biasanya
akan ditutup pukul 15.00 WIB kini harus tutup satu jam kemudian. Tapi aku
pikir, hidupku lebih menyedihkan dari ia yang hanya pulang telat satu jam.
Bahkan aku pikir istrinya tidak akan marah.
“Assalamu...” salamku terhenti ketika di ruang tamu aku melihat
seseorang telah menunggu kedatanganku. Bahkan ibuku terlihat bahagia jika
seorang laki-laki datang ke rumah.
“Duduklah,
Nak.” ajak ibu yang sedari
tadi telah menunggu lama dan terlihat akrab dengan laki-laki itu. Bahkan
diantara mereka memainkan bahasa mata. Sebelum akhirnya ibu meneruskan
kata-katanya, “Iman ini sudah lama
menunggumu, Dis. Sebaiknya... ibu harus meninggalkan kalian berdua di sini.”
Aku hanya bisa pasrah. Kali ini aku
tidak punya alasan untuk pergi. Aku telah mengenal Iman sebelumnya. Bahkan
waktu kita masih bersekolah, ia pernah mengungkapkan perasaannya. Tapi waktu
itu aku menolak dengan alasan aku tidak boleh pacaran. Dan pada pertemuan kali ini,
akupun memberikan jawaban yang sama, yaitu aku belum siap. Tapi, ia menegaskan
kepadaku,”Baiklah. Aku akan tetap
menunggu sampai kau siap. Aku tahu kau sedang terpojok untuk segera menikah.
Makanya aku datang. Aku sebenarnya tak tahu mengapa kau selalu seperti ini.
Yang jelas aku tahu, kau sedang tidak mencintai pria lain selain aku. Bahkan
aku melihatmu tersenyum ketika aku menembakmu waktu itu.”
“Bagaimana,
Dis?” tanya ibuku setelah
Iman pulang dan baru saja aku duduk dan membuka buku.
“Bagaimana
apanya, Bu? Ibu jangan menjadikan keputusanku untuk tak segera memenuhi
permintaan ibu menjadi suatu hal yang menakutkan. Aku masih cukup muda, Bu. Aku
masih ingin menikmati ini...”
Bahkan setelah aku menyimpan semuanya
bertahun-tahun, masa lalu yang kelam itu tak mau juga berdamai dengan hidupku.
Akhirnya aku ceritakan kejadian itu kepada ibu dan melaporkan laki-laki itu
kepada polisi atas tindakan asusila. Bahkan aku sendiri takut setelah kejadian
ini aku benar-benar memutuskan tidak akan menikah untuk selamanya.
Dan untuk lelaki yang aku cintai, lewat
senja aku sampaikan pesan ini, “Aku
tunggu kau di pintu surga."
Rabu, 04 Desember 2013
PROPOSAL PENELITIAN SOSIOLINGUISTIK
KARAKTERISTIK
VARIASI BAHASA IDIOLEK
MAHASISWA
KELAS 3A FKIP BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
UNIVERSITAS
SILIWANGI
(Studi
Deskriptif Analisis Sosiolinguistik Karakteristik Variasi Bahasa Idiolek)
![]() |
Disusun oleh:
EisNesyaMustika 112121002
Nova Puspasari 112121019
Nurohmah 112121029
Nova Puspasari 112121019
Nurohmah 112121029
PROGRAM STUDI
BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
SILIWANGI
TASIKMALAYA
2013
1.
Pendahuluan
1.1 Latar Belakang Masalah Penelitian
Bahasa mempunyai fungsi yang sangat penting bagi manusia,
terutama fungsi komunikasi. Bahasa merupakan alat interaksi sosial atau alat komunikasi
manusia. Dalam setiap kegiatan, bahasa dapat memberikan informasi yang berupa
pikiran, gagasan, maksud, perasaan maupun secara langsung.
Komunikasi adalah penyampaian pesan dan maksud dari
seseorang kepada orang lain melalui bahasa. (Chaer, Abdul dan Leonie Agustina, 2010:61)
menyatakan,”Timbulnya ragam bahasa atau variasi bahasa disebabkan penutur
bahasa dalam masyarakat tutur tidak merupakan kumpulan manusia yang homogen,
sehingga wujud bahasa yang konkret, yang disebut parole menjadi tidak seragam. Terjadinya keragaman atau kevariasian
bahasa ini bukan hanya penuturnya yang tidak homogen, tetapi juga karena
kegiatan interaksi sosial yang mereka lakukan sangat beragam. Setiap kegiatan
memerlukan terjadinya keragaman bahasa itu. Keragaman ini pun akan bertambah
kalau bahasa tersebut digunakan oleh penutur yang sangat banyak serta dalam
wilayah yang sangat luas.”
Variasi bahasa yang timbul karena pemakaian yang berbeda,
topik yang dibicarakan berbeda serta medium pembicaraan yang berbeda. Pemakai
tersebut ialah orang atau penutur bahasa yang bersangkutan. Variasi bahasa yang
didasarkan pada pemakainya disebut dialek. Pendapat Halliday berbeda dengan
konsep pemakai bahasa yang dikemukakan dalam buku karya Mansoer Pateda. Tekanan
diletakkan pada penutur, bukan bahasa yang dituturkan. Maka mengkaji variasi
bahasa dalam hubungannya dengan masyarakat digunakan kajian bahasa secara
eksternal.
Terjadinya ragam ujaran di masyarakat, selain karena
dipengaruhi faktor perbedaan geografis, latar belakang sejarah, budaya juga
disebabkan oleh perbedaan sosial seperti status sosial, tingkat pendidikan,
umur, jenis kelamin dan lain-lain. Perbedaan-perbedaan
ini menyebabkan terjadinya variasi bahasa (Aslinda dan Leni Syafyahya, 2007:
17). Misalnya kita mengunjungi suatu tempat seperti pelabuhan
atau pasar, kita akan mendengar pemakaian bahasa yang bervariasi. Penyebab
adanya variasi bahasa tersebut bukanlah lokasi tetapi disebabkan adanya
perbedaan tingkat pendidikan dan jenis pekerjaan. Akan tetapi, Alwasilah
(1989:65) menyatakan, meskipun para penutur memakai bermacam-macam bentuk
bahasa yang berbeda, tetapi bentuk-bentuk itu merupakan satu bahasa yang sama,
misalnya dialek. Bagaimana untuk mengetahui adanya ragam bahasa dan tingkatan
sosial masyarakat, tentunya kajian penggunaan bahasa ini akan dianalisis secara
eksternal.
Kajian mengenai hubungan antara tingkat sosial dan
penggunaan bahasa yang pernah dilakukan, misalnya oleh C. R. J Ross tahun 1956
yang menemukan adanya perbedaan ucapan, perbedaan tatabahasa, dan pilihan kata
dari ragam bahasa Inggris lapisan atas (upper class) dan yang bukan
lapisan atas (nonupper class). Seolah-olah tingkat dan kedudukan sosial
seseorang di tengah masyarakat turut menciptakan perbedaan atau variasi bahasa.
Berdasarkan uraian di atas, dikorelasikan dengan masalah
penelitian yang akan diteliti yaitu mengenai bahasa seseorang atau ciri khas
yang dimiliki oleh seorang individu dalam menggunakan bahasa yang disebut idiolek.
1.2 Rumusan Masalah Penelitian
Berdasarkan latar
belakang masalah penelitian di atas, penulis
membuat beberapa pertanyaan masalah
penelitian berikut ini.
1.
Bagaimanakah penggunaan
variasi bahasa khususnya idiolek mahasiswa kelas 3A dalam berkomunikasi?
2.
Apakah perbedaan daerah
dapat menimbulkan variasi bahasa/idiolek khususnya pada penggunaan Bahasa
Indonesia pada mahasiswa kelas 3A?
3.
Apakah dialek suatu
wilayah dapat mempengaruhi idiolek seseorang khususnya pada mahasiswa kelas 3A?
1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.3.1
Tujuan
Penelitian
Penelitian
ini bertujuan memperoleh deskripsi dan pemahaman mengenai hal-hal berikut.
1.
Untuk mengetahui
penggunaan variasi bahasa khususnya
idiolek mahasiswa kelas 3A dalam berkomunikasi.
2.
Untuk mengetahui perbedaan
daerah menimbulkan variasi
bahasa/idiolek khususnya pada penggunaan Bahasa Indonesia.
3.
Untuk mengetahui dialek
suatu wilayah dapat mempengaruhi idiolek seseorang.
1.3.2
Manfaat
Penelitian
Manfaat
yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah dapat memperoleh pengetahuan dan
pemahaman tentang kajian sosiolinguistik dalam menganalisis perubahan variasi
bahasa (idiolek) dalam berkomunikasi, pengaruh perbedaan daerah menimbulkan variasi bahasa/idiolek khususnya
pada penggunaan Bahasa Indonesia, dan pengaruh dialek suatu wilayah terhadap
idiolek seseorang. Manfaat lainnya adalah sebagai sumbangan dalam memperkaya pengetahuan
tentang bahasa, variasi bahasa, dan perkembangan bahasa yang hidup pada
masyarakat Indonesia masa kini, khususnya pada mahasiswa kelas 3A.
2.
Teori
Landasan
Kata
sosiolinguistik merupakan gabungan
dari kata sosiologi dan linguistik. Sosiologi adalah kajian yang
objektif dan ilmiah mengenai manusia dalam masyarakat dan mengenai
lembaga-lembaga serta proses sosial yang ada di dalam masyarakat (Chaer dan
Agustina, 1995:3). Linguistik adalah ilmu bahasa atau bidang yang mengambil
bahasa sebagai objek kajiannya. Dengan demikian sosiolinguistik merupakan
bidang ilmu antardisiplin yang mempelajari bahasa di dalam masyarakat (Aslinda
dan Leny Syafyahya, 2007: 6).
Sosiolinguistik
memandang bahasa sebagai sistem sosial dan sistem komunikasi, serta merupakan
bagian dari masyarakat kebudayaan tertentu, sedangkan yang dimaksud dengan
pemakaian bahasa adalah bentuk interaksi sosial yang terjadi dalam situasi
konkret. Dengan demikian, dalam sosiolinguistik bahasa tidak dilihat secara
internal, tetapi dilihat sebagai sarana interaksi/ komunikasi di dalam
masyarakat.
Dalam
masyarakat, seseorang tidak lagi dipandang sebagai individu yang terpisah,
tetapi sebagai anggota dari kelompok sosial. Oleh karena itu, bahasa dan
pemakaiannya tidak diamati secara individual, tetapi dihubungkan dengan
kegiatannya dalam masyarakat atau dipandang secara sosial. Dipandang secara
sosial, bahasa dan pemakaiannya dipengaruhi oleh faktor linguistik dan faktor
nonlinguistik.
Faktor
linguistik yang memengaruhi bahasa dan pemakaiannya terdiri dari fonologi,
morfologi, sintaksis, dan semantik. Selain itu, faktor nonlinguistik yang
memengaruhi bahasa dan pemakaiannya terdiri dari faktor sosial dan faktor
situasional. Faktor sosial yang memengaruhi bahasa dan pemakaiannya terdiri
dari status sosial, tingkat pendidikan, umur, jenis kelamin dan lain-lain. Faktor
situasional yang memengaruhi bahasa dan pemakainya terdiri dari siapa yang
berbicara, dengan bahasa apa, kepada siapa, di mana dan masalah apa (Fishman
dan Suwito dalam Aslinda dan Leni Syafyahya, 2007:6).
Variasi
bahasa adalah bentuk-bentuk bagian atau varian dalam bahasa yang masing-masing
memiliki pola yang menyerupai pola umum bahasa induknya (Poedjosoedarmo dalam
Suwito, 1982:20). Hartman dan Stork (Chaer dan Agustina, 1995:81) membedakan
variasi bahasa berdasarkan kriteria (a) latar belakang geografi dan sosial
penutur, (b) medium yang digunakan, dan (c) pokok pembicaraan.
Halliday
(Aslinda dan Leni
Syafyahya,2007:17) membedakan
variasi bahasa berdasarkan pemakaian yang disebutnya dengan dialek dan
register. Rumusan yang hampir sama dinyatakan oleh Alwasilah (1985:66) meskipun
para penutur memakai bentuk-bentuk yang berbeda, tetapi bentuk-bentuk itu
merupakan satu bahasa yang sama, misalnya idiolek, dialek sosiolek, dan
register/style.
Idiolek merupakan variasi bahasa yang bersifat
perseorangan. Menurut konsep idiolek, setiap orang mempunyai variasi bahasanya
atau idioleknya masing-masing. Variasi idiolek ini berkenaan dengan warna
suara, pilihan kata, gaya bahasa, susunan kalimat, dan sebagainya. Warna suara
yang paling dominan, karena warna suara, kita dapat mengenali suara seseorang
yang kita kenal hanya dengan mendengar suara tersebut.
Idiolek
menurut Bloch yang dikutip oleh C.A. Gumperz dalam J.P.B Allen (Ed.) 1973 : 92
(Pateda, 1987:57) mengatakan bahwa idiolek adalah :
“the totality of the possible utterances of one
speaker at one time in using the language to interact with one speaker”
Meskipun
bahasa sama, tetap akan diujarkan berbeda oleh setiap pembicara (= penutur),
baik yang berhubungan dengan aksen, intonasi, dan sebagainya.
Dikorelasikan dengan masalah penelitian yang akan
diteliti yaitu mengenai bahasa seseorang atau ciri khas yang dimiliki oleh
seorang individu dalam bertutur yang disebut idiolek.
Adapun
faktor-faktor idiolek diantaranya yaitu:
a.
Tempat tinggal
Seseorang
yang tinggalnya di tepi pantai mempunyai warna suara yang berbeda dengan
seseorang yang tinggal jauh dari pantai. Begitupun seseorang yang tinggal di
kota ataupun di desa. Karena faktor gemuruh ombak dan kendaraan yang lalu
lalang menyebabkan mereka harus berbicara dengan nada yang tinggi.
b.
Lingkungan
Seseorang
yang tinggal di lingkungan baru akan meniru idiolek orang lain atau lingkungan
tersebut secara tidak sadar. Misalnya seseorang yang berasal dari Jawa tinggal
di lingkungan Sunda ketika bertutur akan terlihat kejawa-jawaannya.
3.
Prosedur
Penelitian
3.1 Metode Penelitian
Metode
penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu deskriptif analitis.
Heryadi (2010: 42) mengemukakan penelitian deskriptif adalah penelitian yang
bermaksud untuk menggambarkan mengenai situasi atau kejadian-kejadian suatu
subjek yang mengandung fenomena. Penelitian dengan menggunakan metode ini lebih
bersifat survey yang mengakumulasi data dasar dari suatu subjek, kemudian
membahas data itu secara analitik hingga menemukan jalan keluar untuk fenomena
yang ada dalam subjek itu.
Prosedur
atau tahapan penelitian dengan menggunakan metode deskriptif analitis adalah
sebagai berikut.
a.
Memiliki permasalahan
yang cocok dengan metode deskriptif analitis
b.
Menyusun instrumen atau
rambu-rambu pengukuran
c.
Mengumpulkan data
d.
Mendeskripsikan data
e.
Menganalisis data
f.
Merumuskan simpulan
3.2
Lokasi
Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di kampus
Universitas Siliwangi tepatnya di ruang perkuliahan K15.
3.3 Sumber Data
Sumber data dalam
penelitian ini adalah data hasil wawancara yang dikumpulkan berupa percakapan
dengan mahasiswa kelas 3A. Sumber data yang akan diambil dikhususkan dari
perolehan percakapan dengan beberapa mahasiswa kelas 3A.
3.4 Instrumen
Penelitian
Instrumen
dalam penelitian ini menggunakan teknik wawancara tidak terarah.
Instrumen Penelitian:
a.
Perbedaan daerah
menimbulkan variasi bahasa/idiolek dalam berkomunikasi
Narasumber 1:
|
No.
|
Kalimat
|
Idiolek
|
||||
|
Intonasi
|
Penggunaan Kata
|
Fonologi
|
Tekanan
|
Susunan Kalimat
|
||
|
1.
|
|
|
|
|
|
|
|
2.
|
|
|
|
|
|
|
Narasumber 2:
|
No.
|
Kalimat
|
Idiolek
|
||||
|
Intonasi
|
Penggunaan Kata
|
Fonologi
|
Tekanan
|
Susunan Kalimat
|
||
|
1.
|
|
|
|
|
|
|
|
2.
|
|
|
|
|
|
|
Narasumber 3:
|
No.
|
Kalimat
|
Idiolek
|
||||
|
Intonasi
|
Penggunaan Kata
|
Fonologi
|
Tekanan
|
Susunan Kalimat
|
||
|
1.
|
|
|
|
|
|
|
|
2.
|
|
|
|
|
|
|
b.
Alat rekam
c.
Alat tulis
3.5 Teknik
Pengumpulan Data
Teknik
pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini ialah wawancara dengan
mahasiswa kelas 3A, serta pengumpulan dokumentasi dalam bentuk foto, rekaman ataupun
video. Teknik pengamatan terhadap
mahasiswa kelas 3A dilakukan sebagai bekal awal dalam melakukan penelitian
dengan menyaksikan proses percakapan yang dilakukan dengan mahasiswa kelas 3A.
Proses selanjutnya dilakukan proses wawancara dengan beberapa mahasiswa kelas
3A untuk mengetahui proses berbahasa dan karakteristik variasi bahasa. Kemudian dilakukan
pengumpulan dokumentasi percakapan dalam bentuk foto, rekaman ataupun video
proses berbahasa mahasiswa kelas 3A.
3.6 Teknik Analitis Data
Teknik analisis data dilakukan dalam beberapa tahap,
yaitu:
a.
Tahap transkripsi
Tahap transkripsi adalah tahap pengalihan tuturan
(yang berwujud bunyi) ke dalam bentuk tulisan; penulisan kata, kalimat, atau
teks dengan menggunakan lambang-lambang bunyi. Tahap ini merupakan tahapan yang
memunculkan tentang data-data yang telah diperoleh berkaitan dengan variasi
bahasa terhadap idiolek bahasa mahasiswa kelas 3A.
b.
Tahap klasifikasi
data
Tahap
klasifikasi data adalah penyusunan bersistem dalam kelompok atau golongan
menurut kaidah atau standar yang ditetapkan. Tahap ini mengklasifikasikan
data-data yang telah diperoleh berkaitan dengan idiolek seseorang dan seberapa
besar pengaruh tempat tinggal atau lingkungan
terhadap idiolek mahasiswa kelas 3A. Data-data diklasifikasikan
berdasarkan fonologi, penggunaan kata, tekanan, dan susunan kalimat
c.
Tahap penulisan
hasil penelitian
Tahapan
ini merupakan pemaparan hasil penelitian yang telah diolah melalui tahap
transkripsi dan tahap klasifikasi data. Akan diperoleh suatu pemaparan dari hasil
penelitian.
d.
Tahap simpulan
Tahapan
ini merupakan tahap akhir dari proses penelitian yang dilakukan, bertujuan
untuk menyimpulkan data yang diperoleh di lapangan. Sehingga dapat disimpulkan, penelitian yang kami lakukan
untuk mengetahui seberapa besar pengaruh variasi
bahasa (idiolek) terhadap ragam bahasa mahasiswa kelas 3A.
3.7 Waktu
Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan selama 2 minggu.
Tertanggal dari 22 November - 06 Desember 2013, tepatnya pada proses
perkuliahan di ruang K-15.
DAFTAR PUSTAKA
Aslinda dan Leni
Syafyahya. 2007. Pengantar
Sosiolinguistik. Bandung: Refika Aditama.
Chaer, Abdul
dan Leonie Agustina. (2010). Sosiolinguistik
Perkenalan Awal. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Pateda, Mansoer. 1987. Sosiolinguistik. Bandung: Angkasa.
Langganan:
Postingan (Atom)
