Jumat, 27 September 2013

Aichmophobia


Cerpen Nurohmah        
              Kuakui diserang oleh perasaan yang sama berkali-kali sangatlah sakit rasanya. Ditambah kisahnya selalu berulang sampai berakhir dengan kisah yang sama. Perasaan itu tak pernah mendapat balasan. Menjadikan hati semakin terluka. Bukankah ini semakin menjadikan suatu kepercayaan diri berangsur-angsur musnah dan pergi bersama hembusan angin? Membuat pilihan untuk menumbuhkannya tak lagi bisa terjadi. Seakan takut akan jarum yang akan menusuknya lagi. menjadikan Aichmophobia semakin akut.
            “Hatiku ternyata semakin sakit, Sha?”
            “Kenapa tak mencoba untuk mengatakannya saja sih, Fa?”
            “Tak mungkin.”
            “Lha, kenapa?”
            “Aku selalu sakit hati ketika harus memulai lebih dulu.”
            “Tapi kali ini mungkin tidak akan berakhir seperti masa lalu kamu Syarifa?”
            “Tapi, aku ... aku wanita, Sha! Mana mungkin aku yang memulai?”
            “Lalu, Siti Khadijah pada zaman Nabi Muhammad saw. bukan seorang wanita?”
            “Tapi, kali ini beda?”
            “Berbeda apanya? Kalau cinta ya katakan cinta. Apakah kau mau menunggu sampai kulit di wajahmu keriput?”
            “Selama itukah? Sampai aku tidak dianggap ada oleh dia?”
            “Hmm, jelas-jelas dia tidak akan tahu jika kau tak memberitahunya? Apa perlu aku yang bilang?”
            “Nggak usah.”
            Terlihat Aisha tak mau berdebat lagi tentang perasaanku sehingga membiarkan aku sendiri di kelas sebelum jam istirahat usai. Matilah aku oleh perasaanku sendiri!
            ***
            Setelah pulang sekolah aku dan Aisha pergi ke toko untuk membeli alat-alat lukis. Saat itu juga kita memutuskan untuk langsung menggarap tugas seni budaya di rumah Aisha. Mulanya sempat bingung mau melukis apa. Tapi setelah melalui perdebatan panjang akhirnya kita akhirnya untuk menggambar dengan menganut aliran romantisme.
Aliran romantisme ini merupakan aliran tertua di dalam sejarah seni lukis modern Indonesia. Kami akan menggambar sebuah taman bunga. Tetapi yang akan menjadi fokusnya adalah bunga mawar dengan warna merah darah. Namun ketika aku selesai membuat sketsa lukisan Aisha mengeluarkan benda tajam yang membuatku merinding.
            “Kamu kenapa, Fa?”
            “Nggak tahu,” kataku sambil menggeleng dan menutup mata. “Yang jelas jauhkan benda itu dariku, Sha?”, lanjutku.
            “Apa?”
            “Jarumnya.”
            “Oke. Oke. Sekarang udah.” katanya dengan sedikit bingung. “Kamu kenapa sih takut banget sama jarum?” selidiknya.
            “Nggak tahu. Yang jelas hanya dengan melihat jarum apalagi pisau aku akan merasa perutku seperti ditusuk-tusuk.”
            “Kok bisa?”
            “Aku juga nggak tahu sejak kapan aku merasakan hal kayak gini. Aku sudah lupa. Tapi yang aneh terkadang aku juga masih bisa menggunakan pisau kalau lagi di dapur. Itupun jika terlebih dulu aku tak melihat keadaan ujung pisau itu sedang terbalik. Aku akan bisa menggunakannya dengan tenang.” jelasku.
            “Ah... begitu rupanya. Ya sudah kau balik badan saja. Aku akan melubangi cat airnya.”
            “Oke.”
            Setelah Aisha melubangi cat airnya aku dan Aisha mulai mewarnai gambarnya. Satu persatu mulai penuh dengan warna. Ketika pada akhir Aisha menyelesaikan memoleskan kuasnya, diam-diam aku terpesona dengan merah mawarnya dan berpikir bagaimana mungkin tanganku bisa membuatnya. Padahal menggambar adalah kebiasaan yang sudah aku tinggalkan setelah aku lulus SD.
Aku menggambarnya seperti ada dorongan yang menuntunnya sehingga semuanya mengalir begitu saja. Begitu juga akan perasaan-perasaan itu yang selalu timbul berulang-ulang selalu mengalir begitu saja tanpa bisa aku menghentikannya. Namun ketika aku selalu mendapati orang yang aku suka telah menyukai orang lain, aku akan langsung merasakan jarum-jarum seperti sedang menusuki kepalaku.
            ***
            Hari ini adalah hari pengumpulan tugas seni budaya. Aku dan Aisha seperti tidak percaya saat pulang sekolah guru seni budaya memuji lukisannya. Keesokan harinya aku dan Aisha seolah seperti artis mendapat pujian dari mana saja karena lukisanku di pajang di perpustakaan.
Seolah seperti mimpi ketika jam sekolah usai ada suara yang mendekatiku dengan lembutnya saat aku keluar dari gerbang sekolah. Aku bertemu seseorang yang aku suka  juga memuji lukisanku dan Aisha. Aku tak mengira dengan sebuah lukisan mampu menggerakkan seseorang. Biasanya aku hanya berbicara dengannya hanya sebatas kepentingan masing-masing departemen saja dalam organisasi pramuka di sekolah. Tapi jalan pikiranku memang tak pernah salah, ketika ia kelar membicarakan lukisan, ia pun berganti topik membicarakan tugas sekolah dan acara latihan rutin kegiatan pramuka di sekolah.
            Meskipun dia orang yang membosankan tapi karena itu mungkin aku menyukainya. Sepanjang jalan aku merasakan pipiku telah berubah seperti tomat. Kalau saja rumah kita searah mungkin bisa-bisa aku pingsan di tempat karena darahku terlalu deras mengaliri otakku. Bisa-bisa dadaku meledak tak bisa menahan degupnya. Dan meskipun hanya sebentar, tapi aku sudah pasti akan merasakan efek dari pembicaraan itu sampai berminggu-minggu. Asal kita semakin dekat, aku yakin aku bisa mengubah image-ku menjadi sosok yang selalu diingat olehnya. Jadi meskipun tidak sekarang, aku yakin di masa depan kita akan ditakdirkan bersama. Karena aku tak akan membiarkan dia pergi. Sebisa mungkin aku akan mengejarnya jika dia menghindar. Tidak masalah jika di mata dia menjadi stalker woman, yang jelas aku tak mau jarum-jarum itu menusuki kepalaku.
           

Rabu, 18 September 2013

SUBADRA

       Subadra atau Rara Ireng atau Bratajaya adalah putra Prabu Basudewa Raja Mandura dengan Dewi Rohini. Saudaranya ada dua yaitu Kakrasana (Baladewa) dan Narayana (Kresna). Semasa kecil ketiganya dititipkan oleh ayahnya pada Ki Antyagopa dan Nyai Sagopi di Widarakandang. Karena akan dibunuh oleh Kangsa yang ingin menjadi raja di Mandura. Pada waktu prajurit Kangsa tahu kalau mereka disembunyikan di Widarakandang, mereka dikejar dan akan dibunuh. Rara Ireng dibawa lari oleh Nyai Sagopi dan di jalan bertemu Arjuna, menolong dan menyingkirkan prajurit Kangsa. Kemudian mereka bersama mencari Kakrasana dan Narayana. Setelah bertemu ketiganya pergi melihat adu jago di kerajaan Mandura, tapi yang diadu bukan jago tapi manusia. Di situlah Kangsa dikalahkan dan dibunuh oleh Kakrasana dan Narayana. Sirnalah orang yang selalu memburunya.
      Setelah dewasa Subadra mengadakan sayembara untuk memilih suami. Bagi yang dapat menyediakan kereta kencana yang ditarik 40 ekor kuda, saisnya adalah Kera putih dibantu oleh dewa yang bertubuh pendek, juga diiringi gamelan Lokananta dari Kahyangan. Selain itu diiringi pula dengan kerbau kayangan yang kakinya berwarna putih sekaligus dengan dewa penggembalanya. Sebagai sarana temu pengantin dilengkapi dengan kembar mayang parijatha kencana, kayu klepu, dewandaru, dan pisang mas yang pupusnya kain cindhe. Yang dapat memenuhi sayembara tersebut adalah Arjuna, yang dibantu oleh saudara-saudaranya. Burisrawa yang datang dan sudah memakai pakaian pengantin merasa kecewa karena Arjuna dapat memenangkan sayembara dan mempersunting Subadra. Ia berjanji akan mengganggu kehidupan Subadra. Sampai suatu saat pernah menculik Subadra dan akan dijadikan istri. Karena Subadra setia pada suami ia memilih mati bunuh diri daripada menjadi istri Burisrawa. Setelah Subadra mati lalu dihanyutkan ke sungai tetapi ia dihidupkan kembali oleh dewa dan hidup berbahagia dengan Arjuna.
     
image
       Subadra dan Arjuna mempunyai seorang putra yaitu Abimanyu, seorang satria yang baik budinya, meniru watak ibunya yang sabar, setia pada istri, jujur dan selalu tabah menerima cobaan apapun.

Jumat, 30 November 2012

Kronologi Perang Salib

Image
Perang Salib I
        Pada musim semi tahun 1095 M, 150.000 orang Eropa, sebagian besar bangsa Perancis dan Norman, berangkat menuju Konstantinopel, kemudian ke Palestina. Tentara Salib yang dipimpin oleh Godfrey, Bohemond, dan Raymond ini memperoleh kemenangan besar. Pada tanggal 18 Juni 1097 mereka berhasil menaklukkan Nicea dan tahun 1098 M menguasai Raha (Edessa). Di sini mereka mendirikan County Edessa dengan Baldwin sebagai raja. Pada tahun yang sama mereka dapat menguasai Antiokhia dan mendirikan Kepangeranan Antiokhia di Timur, Bohemond dilantik menjadi rajanya. Mereka juga berhasil menduduki Baitul Maqdis (Yerusalem) pada 15 Juli 1099 M dan mendirikan Kerajaan Yerusalem dengan rajanya, Godfrey. Setelah penaklukan Baitul Maqdis itu, tentara Salib melanjutkan ekspansinya. Mereka menguasai kota Akka (1104 M), Tripoli (1109 M) dan kota Tyre (1124 M). Di Tripoli mereka mendirikan County Tripoli, rajanya adalah Raymond.
        Selanjutnya, Syeikh Imaduddin Zengi pada tahun 1144 M, penguasa Mosul dan Irak, berhasil menaklukkan kembali Aleppo, Hamimah, dan Edessa. Namun ia wafat tahun 1146 M. Tugasnya dilanjutkan oleh puteranya, Syeikh Nuruddin Zengi. Syeikh Nuruddin berhasil merebut kembali Antiokhia pada tahun 1149 M dan pada tahun 1151 M, seluruh Edessa dapat direbut kembali.
Perang Salib II
        Kejatuhan County Edessa ini menyebabkan orang-orang Kristen mengobarkan Perang Salib kedua.
Paus Eugenius III menyampaikan perang suci yang disambut positif oleh raja Perancis Louis VII dan raja Jerman Conrad II. Keduanya memimpin pasukan Salib untuk merebut wilayah Kristen di Syria. Akan tetapi, gerak maju mereka dihambat oleh Syeikh Nuruddin Zengi. Mereka tidak berhasil memasuki Damaskus. Louis VII dan Conrad II sendiri melarikan diri pulang ke negerinya. Syeikh Nuruddin wafat tahun 1174 M. Pimpinan perang kemudian dipegang oleh Sultan Shalahuddin al-Ayyubi yang berhasil mendirikan dinasti Ayyubiyah di Mesir tahun 1175 M, setelah berhasil mencegah pasukan salib untuk menguasai Mesir. Hasil peperangan Shalahuddin yang terbesar adalah merebut kembali Yerusalem pada tahun 1187 M, setelah beberapa bulan sebelumnya dalam Pertempuran Hittin, Shalahuddin berhasil mengalahkan pasukan gabungan County Tripoli dan Kerajaan Yerusalaem melalui taktik penguasaan daerah. Dengan demikian berakhirlah Kerajaan Latin di Yerussalem yang berlangsung selama 88 tahun berakhir. Sehabis Yerusalem, tinggal Tirus merupakan kota besar Kerajaan Yerusalem yang tersisa. Tirus yang saat itu dipimpin oleh Conrad dari Montferrat berhasil sukses dari pengepungan yang dilakukan Shalahuddin sebanyak dua kali. Shalahuddin kemudian mundur dan menaklukan kota lain, seperti Arsuf dan Jaffa.
Perang Salib III
        Jatuhnya Yerussalem ke tangan kaum Muslim sangat memukul perasaan Tentara Salib. Mereka pun menyusun rencana balasan. Selanjutnya, Tentara Salib dipimpin oleh Frederick Barbarossa raja Jerman, Richard si Hati Singa raja Inggris, dan Philip Augustus raja Perancis memunculkan Perang Salib III.
Pasukan ini bergerak pada tahun 1189 M dengan dua jalur berbeda. Pasukan Richard dan Philip melalui jalur laut dan pasukan Barbarossa - saat itu merupakan yang terbanyak di Eropa - melalui jalur darat, melewati Konstantinopel. Namun, Barbarossa meninggal di daerah Cilicia karena tenggelam di sungai, sehingga menyisakan Richard dan Philip. Sebelum menuju Tanah Suci, Richard dan Philip sempat menguasai Siprus dan mendirikan Kerajaan Siprus. Meskipun mendapat tantangan berat dari Shalahuddin, namun mereka berhasil merebut Akka yang kemudian dijadikan ibu kota kerajaan Latin. Philip kemudian balik ke Perancis untuk "menyelesaikan" masalah kekuasaan di Perancis dan hanya tinggal Richard yang melanjutkan Perang Salib III. Richard tidak mampu memasuki Palestina lebih jauh, meski bisa beberapa kali mengalahkan Shalahuddin. Pada tanggal 2 Nopember 1192 M, dibuat perjanjian antara Tentara Salib dengan Shalahuddin yang disebut dengan Shulh al-Ramlah. Dalam perjanjian ini disebutkan bahwa orang-orang Kristen yang pergi berziarah ke Baitul Maqdis tidak akan diganggu.
Perang Salib IV
        Pada tahun 1219 M, meletus kembali peperangan yang dikenal dengan Perang Salib periode keenam, dimana tentara Kristen dipimpin oleh raja Jerman, Frederik II, mereka berusaha merebut Mesir lebih dahulu sebelum ke Palestina, dengan harapan dapat bantuan dari orang-orang Kristen Koptik. Dalam serangan tersebut, mereka berhasil menduduki Dimyath, raja Mesir dari Dinasti Ayyubiyah waktu itu, al-Malik al-Kamil, membuat penjanjian dengan Frederick. Isinya antara lain Frederick bersedia melepaskan Dimyath, sementara al-Malik al-Kamil melepaskan Palestina, Frederick menjamin keamanan kaum muslimin di sana, dan Frederick tidak mengirim bantuan kepada Kristen di Syria. Dalam perkembangan berikutnya, Palestina dapat direbut kembali oleh kaum muslimin tahun 1247 M, pada masa pemerintahan al-Malik al-Shalih, penguasa Mesir selanjutnya.
        Ketika Mesir dikuasai oleh Dinasti Mamalik yang menggantikan posisi Dinasti Ayyubiyyah, pimpinan perang dipegang oleh Baibars, Qalawun, dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Pada masa merekalah Akka dapat direbut kembali oleh kaum Muslim tahun 1291 M. Demikianlah Perang Salib yang berkobar di Timur. Perang ini tidak berhenti di Barat, di Spanyol, sampai umat Islam terusir dari sana.

Sabtu, 24 November 2012

Cerpen Tentang "Cinta"


Alhamdulillah cerpen yang bertema cinta ini dapat diselesaikan, penulis mengucapkan terima kasih kepada teman kosan yang telah bersedia membantu mengenai hal yang terkait di dalam cerpen. Selamat membaca semoga pembaca tidak ketawa saat membacanya. *_*

                                          Gerimis dalam Kekeringan

Love Image
     
       Cinta merupakan perasaan yang setiap manusia pasti memilikinya dan mampu merasakannya. Namun cinta yang kurasa masih terombing-ambing di lautan dan lepas. Terbentur karang dan ombak. Aku masih belum tahu kini cintaku milik siapa. Semuanya berlalu terlalu singkat. Aku sudah lupa bagaimana perasaan saat pertama kali aku jatuh cinta. Saat pertama kali aku menemuinya meski hanya dalam impian semata.
       Namun yang kurasakan adalah berdiri diantara sebuah keinginan dan penolakan cinta. Semua aku timbang dengan benar dan hati-hati. Sehingga aku putuskan untuk pergi jauh-jauh. Karena berjuta alasan dan kebaikan untuknya. Itulah sebuah peperangan yang membuat separuh jiwaku berada dalam tengah hutan yang gelap. Terasa tak ada yang memberiku petuah yang menyentuh. Aku tak bisa mendengar dengan baik apa yang terjadi pada lingkungan saat aku berdiri.
       “Udah belum, Hen? Udah mau ditutup perpustakaannya.” kata-kata Saskia memecah lamunanku.
       “Oh, iya. Ini udah ada semua referensi bukunya. Tinggal langsung saja ke penjaga perpustakaan. Ayo?” ajakku sambil membereskan tas dan membawa buku-buku yang sudah aku pilih untuk ditunjukkan kepada penjaga perpustakaan.
       Hati tak bisa berbohong sedikitpun. Meski berkali-kali aku memungkirinya. Berkali-kali pula aku merasakan sakit yang mahadahsyat. Jiwa sedang di kelas namun pikiran entah berkelana kemana. Tak dapat fokus dengan yang ada di depan mata. Rasanya jika seorang pianis sedang memainkan nada, nada itu tak akan memiliki jiwa. Nada itu adalah aku. Sampai perkataan teman sendiripun tak didengar.
       “Hen, asyik nih nilai kita yang paling besar. Ngga’ salah ya aku sekelompok sama kamu, Hen. Kapan-kapan kita belajar bersama lagi dong, Heni.” kata Saskia penuh manja saat kami berdua sedang duduk di bangku taman.
       “Tapi, ada syaratnya. Kamu harus bawa sebotol cairan cinta dan sepiring kesetiaan untuk membuatku nyaman.” jawabku ngeledek.
       “Huh, dasar.” jawabnya kesal.
       Dalam perjalanan pulang, aku dan Saskia bicara apapun yang melintas dalam pikiran. Dia selalu menyinggung-nyinggung perihal cinta, yang selalu membuatku bosan dan malas untuk membahasnya. Sebenarnya bukan aku membenci seseorang yang membuatku benci membicarakan soal cinta. Hanya saja aku tak seharusnya memiliki perasaan cinta yang salah, yang hanya akan membuatku kecewa karena cinta yang kumiliki tak akan mungkin aku miliki seutuhnya. Akupun tak menyalahkan perasaan ini.
       Sebuah opini aku nyatakan, lebih baik mencintai seorang idola daripada mencintai seseorang yang tidak akan membalas cinta dan perasaan kita. Karena sebatas antara seorang fan dan idola, aku hanya mengagumi saja sehingga tak akan membuatku patah hati apalagi kecewa. Hanya sebatas untuk mendapatkan inspirasi dari sosok ­public figure. Sosoknya dapat memberikanku semangat baru. Itulah yang kurasakan saat ini. Dalam keadaan diriku yang tak menentu ini. Aku mencoba mengalihkan perhatianku. Dan mencintai-Nya lebih baik karena jelas cinta-Nya hanya untuk hambanya.
       “Heniii...?” dari kejauhan aku mendengar ada yang mengucap namaku begitu keras. Akupun menengok ke belakang.
       “Herry. Ada apa, Her?” aku tak menyangka dia datang menghampiriku sore itu. Seketika membuat aku gugup.
       Kini aku ingat bagaimana rasanya cinta pertama itu bersemi. Semua orang disekeliling kita menghilang. Semua kosakatapun yang ada di otak terasa hilang begitu cepat, yang menjadikan penyakit amnesia datang sekejap. Semua urat syaraf untuk mengucapkan sepatah katapun terkunci. Dan kau tak bisa apa-apa kala mata itu menghunus matamu. Kau akan terkulai dalam kata-katanya yang menjelma bagai gerimis. Gerimis yang turun dan membasahi jiwa yang sedang kekeringan.
       “Kau menjatuhkan ini.” katanya sangat ramah.
       “Ah, iya betul ini gantungan tas milikku. Makasih ya, Her?” kataku sambil gemetar dan mengambil gantungan tasku dari tangannya.
       Sejak awal perjumpaan itulah aku dengannya jadi semakin akrab. Kala cinta kucoba untuk aku musnahkan dia malah datang. Tapi kala cinta kuharapkan datang dia tak juga datang. Dan semakin membuat keadaan menjadi begitu acuh. Apakah kau mengujiku, cinta? Kau jahat sekali. Kau membuatku merasa seluruh dunia menjauhiku. Tak ada yang mengajakku menikmati indahnya hari.
       Semuanya begitu indah jika cinta itu sudah berkumpul dan dirasakan bersama. Bagai penantian kertas-kertas putih yang telah menemukan tintanya. Terasa lengkap jika seseorang telah menemukan sumber mata air yang akan membuatnya sejuk setiap saat. Cintaku untukmu setiap hari. Cintaku kepada-Nya, bukan hanya sekedar lima waktu semata. Cintaku untuk mereka dan mereka tetap menjadi yang paling berwarna dan lebih terang. Kau membuatku lebih perhatian kepada yang lain. Semangatku telah kembali seutuhnya ke dalam raga. Namun saat mata tak bisa memandang. Kuharap biarlah hanya doa yang menyatukan. Dan kau tetap sabar. “Ya, Allah. Kini malam-Mu telah datang dan siang-Mu telah berlalu dan suara-suara penyeru-Mu telah diperdengarkan maka ampunilah aku.”
November 2012

Sabtu, 17 November 2012

Cerpen 2012



Seorang Bapak Berjas Abu

Converse
Sering aku datang terlambat. Banyak faktor yang melatar belakangi mengapa aku terlambat diantaranya yaitu aku bangun kesiangan. Namun pagi ini karena sepatuku tidak ada di atas rak sepatu. Sekitar setengah jam aku mencari di mana sepatuku. Namun hasilnya nihil. Terpaksa aku memakai sepatuku yang lama.
            Saking terburu-burunya sampai semua kendaraan yang ada di depanku aku salip tanpa perhitungan. Sampai akupun menerobos lampu merah, berlari dan terus berlari menuju kelas. Aku membuka pintu kelas ternyata dosen belum datang, semua mahasiswa melihat ke arahku sambil berkata “kamu bikin kaget kita aja” seru mereka. Akupun duduk.
Aku tak menyadari tali sepatuku terinjak, saat namaku dipanggil dosen maju ke depan. Nyaris aku jatuh seandainya aku tidak pegangan kursi yang ada di depanku. Hari ini penuh dengan cerita misteri sepatu yang membuatku hampir naik darah. Setelah pelajaran usai, aku memperhatikan ada berbagai jenis dan merk sepatu lalu lalang di depan mata. Ada sepatunya orang kaya, sepatunya orang cantik, sepatunya orang antisosial, sepatunya model dan sepatunya orang miskin. Hampir tiap hari aku melihat si diapun berganti sepatu. Kehidupannya bagai pertunjukan model yang berjalan di atas cat walk.
Anak kecil penyemir sepatu yang sering kali aku lihat di depan kampus dengan pedagang koran, kerap membuatku merasa tersentuh. Wajahnya yang polos dan penuh keceriaan. Baju kusut dan wajah yang kurang bersinar serta tak mengenakan sepatu, menawari jasa penyemir sepatu kepada siapapun yang ia jumpai.
Aku selalu berdua dengan Venda. Biasanya aku menunggu jam kuliah di atas tangga ke lima dekat ruang kuliah sambil browsing, membaca karya-karya sastra dari berbagai situs blogger.
“Et, tot. Sorry.” seorang wanita yang terkenal centil menginjak kakiku.
“Sorry-sorry. Sakit nih. Sepatu besi lo itu nginjek kaki gue.”
“Gitu aja marah.” katanya datar sambil turun menuruni tangga.
Pandangannya menelanjangi pikiran. Imajinya membaca isi hatiku. Gerakan tangannya menghipnotis sesaat. Suara beratnya memecah derai keringat. Nenek misterius semakin serius menangkap gerakan bola mataku. Lalu pergi begitu saja dengan cucunya. Meninggalkan aku yang masih tampak cengang.
“Mengapa nenek bisa tahu aku di sini?” kaget setengah mati aku melihat nenek misterius itu datang ke rumahku.
“Nak, sepatu cucu nenek ilang. Maukah kau memberikan nenek sepatumu, Nak?”
“Oh, iya, Nek. Kebetulan aku ada sepatu yang tidak dipakai. Tunggu sebentar aku ambil dulu, Nek.”
“Terima kasih, Nak. Terima kasih banyak. Semoga Tuhan menggantinya dengan yang lebih baik.” katanya lirih meyakinkan sambil memalingkan pandangan dan pergi.
Keanehan yang semakin membuat bulu kudukku semakin merinding. Kebingungan langsung menyerang kepalaku. Aku tak bisa jujur saat nenek tua itu meminta sepatuku. Padahal aku sendiri, tinggal sepatu itu yang aku miliki. Akhirnya, langsung aku jemput Venda dan mengajaknya pergi ke toko sepatu.
“Sebenarnya sepatu seperti apa yang kau cari, Wan?”
“Tak ada sepatu yang...”
“Sssst. Liat tuh cewek cantik. Pake higil bak diva saja, Wan.”
“High heels!” kataku sambil merengut.
“Eh, eh mau kemana? Katanya mau...” aku menarik tangan Venda tanpa banyak penjelasan.
Dari jajaran sepatu yang murah sampai yang mahal, tak ada yang memesona dan menarik hati. Aku memutuskan untuk makan saja di salah satu tempat favorit kami berdua kala mengunjungi pusat perbelanjaan.  Tanpa ba bi bu lagi Vendapun langsung memesan makanan. Sementara aku pergi ke toilet.
Nak, Bapak nitip tas Bapak dulu, ya? Bapak mau ke sana sebentar mau membeli mainan buat anak Bapak.”
Oh, ya, Pak.” kataku singkat.
Saya menunggu Bapak berjas abu itu untuk kembali lagi mengambil tasnya. Sekitar 15 menit aku mondar-mandir di depan pintu toilet. Bapak berjas abu tak juga kembali. Aku mencari Bapak yang tadi masuk ke toko mainan. Namun aku tak mendapati satu pengunjungpun di sana. Panik aku langsung menghampiri Venda.
Ven, Ven. Aku...” kataku bingung .
“Apa. Aku, aku. Ngomong tuh yang jelas.”
“Ini, nih. Tadi ada seorang bapak-bapak nitipin ini.”
“Terus, bapaknya mana?”
“Nah, itu dia permasalahannya.”
Venda merebut tas bapak berjas dan langsung melihat isi tasnya. Tanpa sepatah kata langsung dia mengambil sebuah kotak berwarna hitam bertuliskan “converse”. Setelah dibuka isinya sepasang sepatu berwarna coklat muda. Aku langsung melotot kala Venda membacakan sebuah sobekan kertas kecil yang bertuliskan sebuah pesan.
Untukmu seorang pemuda yang baik hati, Wawan.
“Aku mengambil sepatumu di atas rak kemarin. Sepatuku basah. Maaf aku tak langsung memberitahu. Aku buru-buru pergi karena ibuku sakit. Tetapi sebagai gantinya aku telah mengirimimu sebuah sepatu yang sama. Karena mungkin aku akan lama.” sebuah pesan singkat dikirim oleh Indra teman satu kos denganku.

09.07 p.m
14 November 2012

Jumat, 09 November 2012

DI UJUNG ALISKU



       Di ujung alisku air mata cinta berjatuhan. Di ujung seyum bibirku tergantung namanya. Di ujung kepekaan lidahku ada rasa yang tak menentu kala racun itu kureguk. Tertelan menusuk jiwa. Tak ada lagi penawar. Segala yang kulihat tak ada selain bayangannya pada tembok, lantai, atap, dan tempat tidur. Dia  bak kuman yang tampak di manapun aku singgah. Menempel dan mengikuti di balik pandangan mata. Tak ada keadaan nyaman selain cara untuk membunuhnya. Itulah kesulitanku.
        Dalam perjuanganku kali ini untuk membunuh kuman, aku memang tidak berhasil sedikitpun. Dengan adanya kata-kata bijak yang kudengar kala itu, aku semakin tak kuasa menguasai diriku sendiri. Aku semakin tak bisa mengenali siapa aku. Aku semakin jatuh lebih dalam ke lembah cintanya. Semakin aku tak dapat menarik lagi jiwa ini ke daratan. Aku semakin tersiksa dengan perasaanku sendiri. Ini takdir untuk merasakan bahwa cinta merupakan perasaan yang begitu sulit aku jelaskan. Begitu sulit untuk aku menerima kembali keadaan yang sebelumnya biasa-biasa saja. Tak ada yang bisa kulakukan kecuali memandang tembok dan melemparinya dengan senyuman-senyuman yang tak jelas adanya. Entah dari mana datangnya senyuman, itupun tak pernah disangka sebelumnya.
        Ada kalanya hari menjadi harinya orang gila. Milik orang-orang yang sedang membangun cinta. Ada kalanya hari begitu pendek. Suara gemuruhpun tak dapat didengar sore itu. Ucapan terima kasih dari seseorangpun tak sempat dibalasnya. Begitu pelitkah cinta sampai tak membolehkan diriku berbagi dengan yang lain? Persediaan kantung udaraku pagi ini hanya 60%. Itupun hanya sekedar untuk melangkah dan melewati pandangannya. Aku hampir tak bisa bernapas.

09 November 2012

Rabu, 31 Oktober 2012

Puisi dan Kehidupan

Oleh Nurohmah

24 Oktober 2012

Hewan mati tetap saja akan menjadi hewan (bangkai). Gelandangan mati dipinggir jalan menjadi sampah. Tak ada yang memandang apalagi melihat dan sampai menguburkan seperti manusia lainnya yang mati di atas ranjangnya. Dan apalagi jika mati karena tertabrak mobil di jalan raya mungkin mayat itu habis terlindas oleh mobil lain yang melintas. Akhirnya benar-benar menjadi sampahlah ia. Sampah busuk di pinggir jalan dan jika tak dibuang akan menyebarkan wangi tak sedap. Namun yang anehnya hidung manusia di sana masih tetap saja nyaman bernapas. Entah mereka sudah biasa atau karena memang hidung mereka sudah tak peka lagi saya juga kurang tahu. Bisa juga karena mereka sengaja menjadikan itu semua sebagai sampah pemandangan yang unik. Tapi apa bagusnya sampah itu dipajang?

Virus yang tak terlihat oleh mata telanjangpun sangat berbahaya. Apalagi jika virus itu kelihatan. Mungkin virus juga akan meniru kehidupan kaum Bani Israil (saling membunuh). Dunia telah sekian lama berada pada zaman yang lebih baik setelah Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah. Namun sepertinya dunia seolah sekarang perlahan telah kembali pada zaman kegelapan. Sudah jarang manusia yang mau bersusah payah berusaha demi sesuap nasi. Rakyat jelata diinjak-injak harga dirinya. Manusia tak lagi memandang manusia sebagai manusia. Dan satu berbanding sekian pemimpin yang masih mau memandang ke bawah dan bercermin diri. Aku yang hidup pada zaman ini kadang merasa gerah setiap hari yang kulihat hanyalah lautan orang yang berambisi pada persaingan dunia, titel dan jabatan.

Ketika puisi harus berbicara untuk berjuta unek-unek yang menumpuk di tempurung otakku. Harus dari belah mana dulu puisi memulainya. Puisi adalah surganya para penyair. Kerajaan penyair yang tak memerlukan tahta. Kehidupannya sangat sederhana. Namun jika suatu hari puisi meledak dapat dikatakan puisi ibarat bahan utama peledak yang dapat menghancurkan gedung-gedung yang menjulang tinggi. Membakar dan menghanguskan virus-virus yang tak terlihat sekalipun. Mengapa demikian? Karena puisi akrab sekali dengan sifat manusia yang paling mulia yaitu kejujuran. Para penguasapun takut padanya.

Mengapa harus puisi? Mengapa tidak lagu dangdut saja yang sangat akrab di telinga masyarakat kalangan bawah yang selalu didengarkan tiap pagi oleh mereka meski hanya ditemani kopi pahit saja. Puisi ditulis penyair bukan semata karena uang. Bukan suatu cita-cita apalagi gelar. Namun puisi ditulis penyair sebagai suatu kebutuhan. Puisi adalah teman sejati yang tak pernah berontak pada penulisnya. Karena puisilah kita dapat memegang dunia. Dunia seolah berada di tangan dan tintanya. Berminpi, percaya, dan keyakinannya pada puisi untuk membawanya bebas memandang dunia. Kesetiaanya membantu imaji menciptakan sebuah karya. Dan jika penyair harus mati. Mati bukan berarti kalah. Mengenang Widji Tukul (Wiji Widodo) pada peristiwa kerusuhan 27 Juli 1996 di Jakarta.

Menulis itu hal yang menyenangkan. Karena menulis adalah jembatan yang membawa pada pembebasan berpikir. Menulis adalah media yang membebaskanmu dari terbelenggunya pemikiran yang tak sempat tersampaikan secara langsung. Menurut Dr. Pennebaker, menulis itu menjernihkan pikiran, menulis dapat mengatasi trauma, menulis membantu mendapatkan dan mengingat informasi baru, menulis membantu memecahkan masalah dan menulis-bebas membantu kita ketika kita terpaksa harus menulis.

Dan mengapa harus menulis puisi? Puisi merupakan ekspresi dari pengalaman imajinatif manusia. Pertama sekali yang kita peroleh ketika membaca sebuah puisi adalah pengalaman. Semakin banyak orang membaca puisi semakin banyak pula pengalaman yang diperoleh / nikmati, terlebih pula pengalaman imajinatif. Dan sebenarnya suatu pengungkapan secara implisit, samar dengan makna yang tersirat, di mana kata-kata condong pada artinya yang konotatif, itulah yang dimaksudkan puisi yang sebenarnya (Tirtawirya, 1983:3).

Puisi mampu memberikan kesenangan atau hiburan kepada pembaca. Puisi juga mampu memberikan manfaat bagi pembaca dalam rangka membentuk pandangan hidupnya. Hal itu mungkin saja terjadi karena pada awal pertumbuhannya, puisi sangat erat hubungannya dengan filsafat dan agama. Bahkan Anda yang beragama Islam, tentunya telah memaklumi bahwa Kitab Suci Al-Quran teruntai dalam rangkaian puisi yang indah. Begitu juga renungan para pujangga Jawa dan Sunda, umumnya juga disusun dalam bentuk tembang.

Unsur kehikmahan yang bermanfaat dalam mengembangkan filsafat hidup pembaca dapat meliputi berbagai masalah yang sangat kompleks. Kompleksitas itu terjadi karena, sebagai suatu kreasi seni, puisi dapat mengangkat bahan penciptaannya dari kompleksitas masalah dalam kehidupan itu sendiri, dari segala yang ada dan mungkin ada. Oleh sebab itulah, puisi pada dasarnya juga mampu menggambarkan problema manusia yang bersifat universal, yakni tentang masalah hakikat kehidupan, hakikat manusia, kematian dan ketuhanan.

***

Jika sastra khususnya puisi memberikan manfaat seperti di atas, maka mulai saat ini tidak ada kata terlambat untuk mulai mengakrabkan diri dengan puisi. Oleh karena itu, kita dapat memulainya dengan mencatatkan hal-hal penting atau peritiwa penting. Dalam hal ini buku diary atau buku apa saja yang selalu Anda bawa menjadi sangat bermanfaat untuk menampungnya. Buku diary ini akan membantu kita dalam membangun kembali emosi yang kita lalui pada saat itu ke dalam puisi.



Daftar Pustaka

Aminuddin, Drs. (2009). Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Sinar Baru Algensindo.

Djojosuroto, Kinayati. (2006). Pengajaran Puisi. Bandung: Penerbit Nuansa.

Hernowo. (2004). Quantum Writing. Bandung: Mizan Media Utama.